Wednesday, February 18, 2009

Pendidikan:Sistem Pembelajaran CTL

Sistem Pembelajaran CTL Guru MAN Lhokseumawe Sistem pembelajaran sekarang telah diarahkan agar para siswa dapat diajarkan dengan sistem Contextual Teaching and Learning (CTL) bahwa proses pembelajaran harus berjalan secara holistik membantu siswa untuk memahami makna dan tujuan materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, kultural atau lingkungannya), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya. Konsep belajar CTL adalah sebuah usaha kerja sama antara guru dan siswa dalam mengaitkan materi ajar dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan dengan penerapan lingkungannya. Tujuan akhir dari sistem pengajaran CTL adalah memfungsikan proses belajar mengajar (PBM) mengaitkan materi ajar dengan lingkungan siswa, sehingga para siswa mendapat pengalaman belajar yang sesuai dengan dunia nyata. Dalam CTL diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Proses pembelajaran terjadi antara staf pengajar (guru, dosen, penyuluh dan sebagainya) melelui CTL sebuah upaya bersama untuk berbagi dan mengolah informasi dengan tujuan agar pengetahuan yang terbentuk ter-“internalisasi” dalam diri peserta pembelajaran dan menjadi landasan belajar secara mandiri dan berkelanjutan. Maka kriteria keberhasilan sebuah proses pembelajaran adalah munculnya kemampuan belajar berkelanjutan secara mandiri. Proses PBM yang sudah diakui saat ini harus melibatkan 3 aspek, yaitu : aspek psikomotorik, aspek kognitif dan aspek afektif. Aspek Psikomotorik dapat difasilitasi lewat adanya praktikum-praktikum dengan tujuan terbentuknya ketrampilan eksperimental. Aspek kognitif difasilitas lewat berbagai aktifitas penalaran dengan tujuan adalah terbentuknya penguasaan intelektual. Sedangkan aspek afektif dilakukan lewat aktifitas pengenalan dan kepekaan lingkungan dengan tujuan terbentuknya kematangan emosional. Ketiga aspek tersebut bila dapat dijalankan dengan baik akan membentuk kemampuan berfikir kritis dan munculnya kreatifitas. Dua kemampuan inilah yang mendasari skill problem solving yang diharapkan wujud pada diri mahasiswa. Untuk menghasilkan sebuah proses pembelajaran yang baik, maka paling tidak harus terdapat 4 tahapan, yaitu : 1) Tahap berbagi dan mengolah informasi, kegiatan dikelas, laboratorium, perpustakaan adalah termasuk dalam aktifitas untuk berbagi dan mengolah informasi; 2) Tahap internalisasi, aktifitas dalam bentuk PR, tugas, paper, diskusi, tutorial, adalah bagian dari tahap internalisasi; 3) Mekanisme balikan, kuis, ulangan/ujian serta komentar dan survey adalah bagian dari proses balikan; 4) Evaluasi, aktifitas assesment yang berdasar pada test ataupun tanpa test termasuk assesment diri adalah bagian dari proses evaluasi. Evaluasi dapat dilakukan secara peer review ataupun dengan survey terbatas. Seharusnya implementasi proses pembelajaran di sekolah senantiasa dievaluasi untuk memenuhi aspek-aspek diatas. Proses belajar anak dalam belajar dari mengalami sendiri, mengkonstruksi pengetahuan, kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Transfer belajar; anak harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan serta ketrampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Siswa sebagai pembelajar; tugas guru mengatur strategi belajar dan membantu menghubungkan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru, kemudian memfasilitasi kegiatan belajar. Pentingnya lingkungan belajar; siswa bekerja dan belajar secara di panggung guru mengarahkan dari dekat. Hakekatnya bahwa Komponen pembelajaran yang efektif meliputi: Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan. Tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, seangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas. Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan. Komunitas belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat. Pemodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajr atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik. Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya. Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa. Penerapan CTL dalam pembelajaran Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan engkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru. Lakukan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua toipik. Kembangkan sifat keingin tahuan siswa dengan cara bertanya. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). Hadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran. Lakukan refleksi pada akhir pertemuan. Lakukan penilaian otentik yang betul-betul menunjukkan kemampuan siswa. Ada kecendrungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan memgetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru.Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual II Pembelajaran CTL merupakan alternatif dalam proses belajar mengajar (PBM) memberi alternatif kepada sisswa dan guru memahami materi ajar dengan kontek lingkungan alam yang tersedia, dalam hal ini pemahaman tentang PBM dan pemahaman CTL dan realisasinya. Pemikiran tentang belajar Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut: 1. Proses belajar; (a) Belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkontruksi pengetahuan di benak mereka, (b) Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru, (c) Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki sesorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan, (d) Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan, (e) Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru, f) Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide, (g) Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan sesorang. 2. Transfer Belajar; (a) Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain, (b) Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit demi sedikit), (c) Penting bagi siswa tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu 3. Siswa sebagai Pembelajar; (a) Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru, (c) Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting, (d) Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang sudah diketahui, (e) Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri. 4. Pentingnya Lingkungan Belajar; (a) Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari guru akting di depan kelas, siswa menonton ke siswa akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan, (b) Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka.Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya, c) Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian yang benar, d) Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting. C. Hakekat Pembelajaran Kontekstual Pembelajarn kontekstual (Contextual Teaching and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment) D. Pengertian Pembelajaran Kontekstual Pertama, Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya. Kedua, Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong pebelajar membuat hubungan antara materi yang diajarkannya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat E. Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Tradisional Kontekstual: (a) Menyandarkan pada pemahaman makna, (b) Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa, (c) Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. (d) Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/masalah yang disimulasikan, (c) Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa, (d) Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang,(e ), Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir kritis, atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok), (f) Perilaku dibangun atas kesadaran diri, (g) Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman, (h) Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri. yang bersifat subyektif, (i) Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal tersebut merugikan, (j) Perilaku baik berdasarkan motivasi intrinsic, (k) Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks dan setting, (l) Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik. Tradisional (a) Menyandarkan pada hapalan, (b) Pemilihan informasi lebih banyak ditentukan oleh guru, (c) Siswa secara pasif menerima informasi, khususnya dari guru, (d) Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis, tidak bersandar pada realitas kehidupan, (e) Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan, (f) Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu, (g) Waktu belajar siswa sebagian besar dipergunakan untuk mengerjakan buku tugas, mendengar ceramah, dan mengisi latihan (kerja individual), (h) Perilaku dibangun atas kebiasaan, (i) Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan, (g) Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau nilai rapor, (h) Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk karena takut akan hukuman, (j) Perilaku baik berdasarkan motivasi entrinsik, (k) Pembelajaran terjadi hanya terjadi di dalam ruangan kelas, (l) Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ulangan. F. Penerapan Pendekatan Kontekstual Di Kelas Pembelajaran Kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. Dalam hal ini; (a) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik, (b) kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya, (c) Ciptakan masyarakat belajar. (d) Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran, (e) Lakukan refleksi di akhir pertemuan, (d) Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara G. Tujuh Komponen Pembelajaran Kontekstual 1) Konstruktivisme; (a) Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal, (b) Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan. 2) Inquiry, (a) Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman, (b) Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis. 3) Questioning (Bertanya), (a) Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa, (b) Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry 4) Learning Community (Masyarakat Belajar): (a) Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar, (b) Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri, (c) Tukar pengalaman, (d) Berbagi ide. 5) Modeling (Pemodelan): (a) Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar; (b) Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya. 6) Reflection ( Refleksi): (a) Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari, (b) Mencatat apa yang telah dipelajari, (c) Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok. 7) Authentic Assessment (Penilaian Yang Sebenarnya): (a) Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa, (b) Penilaian produk (kinerja), (c) Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual H. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual adalah sebagai berikut; Kerjasama, Saling menunjang, Menyenangkan, tidak membosankan, Belajar dengan bergairah, Pembelajaran terintegrasi, Menggunakan berbagai sumber, Siswa aktif, Sharing dengan teman, Siswa kritis guru kreatif, Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain, Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain I. Menyusun Rencana Pembelajaran Berbasis Kontekstual Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan authentic assessmennya. Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Sekali lagi, yang membedakannya hanya pada penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya.

0 comments:

Post a Comment

Kritikan dan memberi solusi pada tulisan diatas sangat diharapkan dari Anda. Kritikan yang tidak sesuai akan diabaikan. ok, trimks.

 

About

Map of Reader

Map IP Address
Powered byIP2Location.com

ARMANAWI Copyright © 2009 Community is Designed by Bie